Aku adalah seorang ibu dari bayi berumur 10 bulan. Aku dan suamiku menanti lahirnya bayi kami, dan kami sangat bahagia atas kelahirannya. Hal yang kami rindukan setiap hari adalah manis tingkahnya, ia tumbuh dengan baik.
Di umur bayi kami yang baru 10 bulan ini, banyak hal tidak menyenangkan yang terjadi pada negara di tempat kami tinggal, yaitu Indonesia.
Lahir di tahun 1996, salah satu memori awal yang bisa diingat adalah gambar gedung DPR di demo 1998 yang tertangkap oleh layar televisi di rumah, dan ibu yang membeli susu lebih banyak sebagai efek daripada panic buying. Beruntungnya ibu yang saat itu bisa membeli banyak susu untuk saya minum, beliau menceritakan tentang susu di swalayan yang mulai digembok dalam kotak kaca karena rawan penjarahan. Beruntungnya kami memiliki pesawat televisi.
Kami memiliki ketakutan, hal yang sama akan terulang lagi, kekacauan dimana-mana…
Kami mengkhawatirkan apakah anak kami akan bisa memiliki keberuntungan dalam kehidupan bernegara nantinya? Kondisi pemerintahan saat kami tumbuh dewasa tetap jauh dari kata lumayan, tapi ia belum jadi sangat buruk seperti hari ini… bagaimana dengan rezim saat ini yang umurnya baru beberapa bulan sejak pelantikan?
Hal-hal yang mereka jadikan kebijakan saat ini akan menjadi fondasi untuk peristiwa yang akan terjadi di masa depan nanti. Bagaimana jika nantinya kebijakan menggiring hak berekspresi putra kami secara represif? Di 2019, saat kami masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, kami bisa mempraktikkan kebebasan berekspresi terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat atas kebijakan pemerintah secara cukup mulus, walau sinyal operator dan internet dimatikan, ada pula kawan yang tetap ditahan, tetap pula gas air mata ditembakkan, tapi kawan di Yogyakarta tidak ada yang menjadi tinggal nama ketika paginya turun ke jalan. Akankah kesempatan berprotes dalam rasa aman akan ada untuk putra kami?
Kami merasa takut akan apa yang akan terjadi… tapi ketakutan kami juga ada pada orang-orang yang dibekali pendidikan dan keberdayaan cukup untuk berpikir kritis yang tetap memilih untuk menjadi apatis. Dengan begini, panjang umurlah ketidakadilan. Akan sangat mudah untuk mengarahkan orang-orang yang akan hanya diam dan menerima tanpa setitik pun perlawanan terhadap kebobrokan, sehingga makin besarlah tanggungan masyarakat yang akan mengalami kesulitan demi kesulitan.
Siapa yang akan menuai sikap apatis yang ditabur oleh orangtua jika bukan anaknya nanti? Benar adanya jika orangtua yang memiliki modal kapital cukup, akan mengirim anaknya untuk bersekolah nun jauh disana di luar Indonesia, di negara maju yang berfasilitas apik dengan limpahan sarana prasarana. Kami pula memiliki mimpi sama. Adakah mereka berpikir, negara nun jauh itu bisa memberikan baiknya sarana prasarana karena pengelolaan yang mumpuni oleh pemerintahannya?
Jika kami tidak sedang memikirkan kemaslahatan umat, kami memikirkan rumah tangga kami yang merasakan dampak dari terus naiknya harga sembako. Kenaikan harga yang terasa bedanya bahkan bagi orang ibukota dengan gelar pascasarjana yang sudah bekerja lima tahun lamanya dengan pendapatan yang bisa dikatakan mumpuni, seperti kami.
Kami tidak menangkal benar adanya keberuntungan kami. Tapi betapa sedihnya, beruntung pun negara tetap membuat kami kurang beruntung? Kami memikirkan tentang transportasi umum, KRL yang tidak juga tambah frekuensi dan gerbong walaupun penyokong ekonomi negara yang berdesakkan di dalamnya kian bertambah jumlahnya, peluh kerja keras mereka menetes… integrasi yang kurang membuat enam jam dihabiskan di jalan tiap hari untuk sampai kembali ke rumah, dimana anak-anak sudah terlelap dalam manis mimpi.
Apakah mimpi anak-anak dapat kami bantu wujudkan nanti? Dengan kondisi seperti ini? Apakah dengan kelelahan yang terus-menerus kami dapat tetap menjadi orangtua yang hadir sepenuhnya? Salahkah kami jika rumah kontrakan yang cukup layak yang bisa kami bayar terletak jauh dari kantor? Salahkah kami jika tawaran terbaik untuk menyiapkan perjalanan mimpi anak kami berarti menukarkan dengan waktu yang lebih lama kami habiskan di jalan?
Apakah kami harus membeli mobil juga? Apakah kami harus membayar cicilan lagi? Salahkah orang tua kami yang tidak bisa membelikan fasilitas penyokong kesejahteraan saat kami menikah dulu?
Bukankah cukup jika mereka juga telah berjuang begitu kerasnya demi menyekolahkan kami hingga ke perguruan tinggi? Apakah kami harus membentak mereka, yang kini makin menua, karena telah tua pun mereka tidak kunjung kaya raya?
Pagi ini, cukup sampai disini dulu untaian kata yang menuturkan kegelisahan kami. Orangtua dari bayi kecil yang usainya belum genap setahun. Doa dari ayah dan ibu selalu menyertaimu. Semoga cukup kuat untuk mengetuk pintu langit dan melindungimu selalu. Ayah dan ibu sayang sekali kepadamu.
Masa depan menantimu.
21 Maret 2025 - S.A.